Drama King's Chronicle

I'm the type of person who is fne for one second, then I overthink and depress myself. to the point of going through the entire day remembering everything bad that's ever happened to me.

Why Generation Y Yuppies Are Unhappy

kuntawiaji:

Saat lagi main-main di Periplus PIM beberapa bulan yang lalu, Oknum F menggeret saya dan menunjukkan cover majalah Time terbaru. Saya tersenyum melihatnya. Headline saat itu berjudul “The Me Me Me Generation: Millennials are lazy, entitled narcissists who still live with their parents” lengkap dengan model seorang perempuan remaja berbaring sambil berpose narsis menggunakan ponsel. Majalah sebesar Time sampai-sampai mengangkat isu (yang menurut saya ga penting) ini sebagai topik utamanya. Berarti ini adalah hal yang penting, bahkan krusial.

Saya sudah dua kali diundang menjadi pembicara mengenai topik yang nyerempet ke pembahasan tentang generasi Millenials ini. Buat yang belum tau, akan saya jelaskan secara singkat. Generasi Millenials atau ada yang menyebutnya juga dengan generasi Y, generasi Z, adalah mereka-mereka yang lahir dalam rentang usia 1980an-2000an. Generasi inilah yang mengisi masa-masa usia remaja dan dewasa muda saat ini. Generasi Y ini dikenal dengan sifatnya yang ambisius, kompetitif, pekerja keras, memiliki mobilitas tinggi, keinginan selalu terkoneksi dengan dunia (via internet), narsistik, dan serba instan. Mereka inilah yang dalam hidupnya memiliki 4 kebutuhan pokok: sandang, pangan, colokan, dan internet. Papan tidak terlalu penting bagi mereka. Ada tiga alasan: harga properti tidak terjangkau kantong mereka, mereka masih tinggal dengan orang tua (bahkan hingga mereka sudah menikah sekalipun), dan kebutuhan mobilitas yang lebih besar (sehingga membeli mobil adalah pilihan yang lebih rasional bagi mereka). Mereka adalah golongan yang percaya internet sama pentingnya dengan makanan dan air sehingga hampir seluruh dari mereka tidur bersama ponsel di sisinya. Merekalah penguasa utama (penyedia konten, kritikus, komentator, penonton, konsumen) di jagat dunia maya.

Beberapa hari lalu, Oknum G memberikan link sebuah artikel dari Huffington tentang analisis yang memaparkan kenyataan mengapa generasi Y menjadi generasi yang tidak bahagia (artikel terlampir di bawah). Jika zaman dahulu kita mengenal istilah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, hal itu terjadi ketika kita membandingkan kekurangan diri kita dengan kelebihan orang lain. Tetapi di masa pencitraan media yang begitu kuat saat ini, tingkat depresi, frustasi semakin meningkat. Ini terjadi karena kita membandingkan kelemahan diri kita dengan kelebihan orang lain yang sudah dicitrakan puluhan kali lebih baik dari yang sebenarnya. Satu hal yang saya suka dari artikel ini adalah pesan di akhir kisah bahwa sesungguhnya kita tidaklah sespesial yang kita kira. Untuk saat ini. Kita adalah bagian dari orang yang biasa-biasa saja. Kita akan menjadi spesial, seiring dengan waktu dan seiring dengan usaha keras yang kita lakukan.

(via meidinamarsa)